Wednesday, January 22, 2014

[Buku Baru] SBY : Selalu Ada Pilihan



JUDUL utama buku setebal 824 halaman itu Selalu Ada Pilihan. Sub judulnya Untuk Pencinta Demokrasi dan Para Pemimpin Indonesia Mendatang, dicetak dalam format 15,5 x 23 cm. Setelah sekitar satu tahun ditulis dan diproses, Jumat, 17 Januari, buku ini diluncurkan.

Ditulis sendiri oleh Susilo Bambang Yudhoyono, dicicil selama satu tahun, selesai 70 persen pada pertengahan Juli 2013. Semula sebelum hurufnya diperkecil, tebalnya 1.084 halaman.

Ketika tim penerbitnya, Penerbit Buku Kompas, diundang SBY ke Puri Cikeas, 14 Oktober 2013, dia sampaikan kronologi penulisan, garis besar isi buku, dan beragam kemungkinannya. ”Atas kehadiran buku ini, segala kemungkinan sudah saya pikirkan dan kalkulasikan baik-baik, termasuk respons negatif dan komentar minor, seperti Presiden, kok, menulis buku. Harusnya bekerja atau SBY, kan, hanya mau curhat,” kata SBY.


Setidaknya baru ada lima kepala negara atau kepala pemerintahan yang menulis sendiri bukunya, satu di antaranya presiden ke-6 RI ini. Di Indonesia inilah yang pertama kali. Yang lainnya adalah Nelson Mandela, Luiz Inacio Lula da Silva, Ariel Sharon, dan Lee Myung-bak. Empat di antaranya dalam bentuk otobiografi, sementara buku SBY bukanlah otobiografi.

Kata SBY, ”Dalam tiga-lima tahun ke depan, saya akan menulis dua buku lagi. Yang satu semacam memoar politik, lainnya otobiografi.”

Dengan cover putih, kecuali judul berwarna merah, nama penulis, dan subjudul, tidak ada foto kecuali headshot penulis berwarna di sampul belakang, buku ini menyiratkan kejujuran dan maksud baik penulis SBY. Mau berbagi refleksi dan pengalaman yang semoga bermanfaat bagi masyarakat, termasuk mereka yang saat ini siap-siap berlaga dalam Pilpres 2014. SBY berharap kandungan buku ini bisa dijadikan bahan belajar.


Buku ini bukan curhat, bukan pembelaan diri, melainkan keinginan SBY berbagi pengalaman dan pengetahuan. Aktualitasnya tinggi menyangkut tahun politik 2014. Penuturan dengan kosakata sederhana dan bukan dengan analisis ilmiah menjadi daya tarik lainnya. Tanpa sengaja menjadi bonus plus untuk legacy SBY: bukan hanya tentara, presiden, melainkan juga penggubah lagu dan penulis buku. Begitu sebuah buku tersaji di ranah publik, terbuka untuk pujian, kajian, kecaman, dan kritik! (kompas.com)

No comments:

Post a Comment