Saturday, March 9, 2013

Buku Baru Gramedia Bangka


Dahlan bisa berbicara apa saja dengan orsinalitas leluconnya. Dalam teori Stand Up Comedy, apa yang dilontarkan Dahlan bukanlah Street Jokes, Lawakan yang sudah disampaikan berulang-ulang oleh banyak orang.

Buku ini menyajikan tweet-tweet Dahlan iskan dari akun twitter pribadinnya @iskan_ dahlan kali ini dalam bentuk Certwit .Tentunya penerbit hanya menggunakan tweet-tweet yang menarik,lucu, dan inspiratif dari @iskan_ dahlan.




Buku ini berkisah tentang pemukiman Tionghoa di pulau Bangka, ’Pulau Timah’ Indonesia, dari asal muasal nya di awal abad ke-18 hingga akhir abad ke-20. Organisasi Tionghoa yang mengkhususkan diri dalam produksi bahan mentah,masuknya tenaga kerja asal Tiongkok dan pembentukan suatu komunitas Tionghoa secara bertahap adalah tema-tema pokok, namun buku ini juga memberijkan perhatian  pada pengaruh berbagai perkembangan tersebut pada masyarakat lokal.

 Perubahan tekhonologis dan kebijakan pemerintahan,baik kolonial maupun Indonesia, Ditambahkan pula dalam kisah ini Pertambangan timah di masa awal serta peran masyarakat Tionghoa dalam pembangunan Pulau Bangka Abad XVIII s/d Abad XX





Setiap kita pasti mendambakan kehidupan yang bahagia, di dunia maupun diakhirat. Bahagia di dunia karena kita memiliki kehidupan yang berkelimpahan. Bahagia di akhirat karena kita mempunyai amal yang menyelamatkan
Rezeki itu misteri, mati itu pasti;bagaimana kita mengoptimasi diri agar terampil menjemput rezeki yang berkelimpahan demi keindahan saat kematian. Persiapkan kematian, hidup kita malah berkelimpahan. Bagaimana itu bisa terjadi ? Anda bisa menemukan jawabannya dalam buku ini.

Beberapa tema penting yang diulas dibuku ini,antara lain:
·         5 Rumus Bahagia Dunia Akhirat;
·         Pahlawanku Keluargaku;
·         Optimalkan Hidup, Persiapkan Kematian;
·         Kekayaan sesungguhnya Adalah Kesederhanaan;
·         Langgar kebenaran,Jalan Hidup Jadi Sempit.





Tulisan-tulisan yang ditorehkan dalam buku ini adalah hasil pengalaman para santri hidup dan belajar di Barat. Kehadirannya ingin membuktikan bahwa kaum santri bukanlah kaum sarungan yang jago kandang. Mereka adalah orang-orang yang berani menerobos keluar kultur masyarakat tradisional untuk menyelami samudera pergaulan internasional.Mereka merupakan penerus para ulama yang memang telah memiliki tradisi mengembara mencari ilmu pengetahuan dimanapun berada .

Dari santri yang asyik bergaul dengan orang-orang Meksiko yang sering dianggap biang kerok kejahatan, hingga mereka yang berjuang hebat menembus benteng kokoh Akademi Barat demi demi mendapatkan beasiswa dan akses ke Universitas prestitus. Pengalaman-pengalaman mereka ini layak dibaca siapa pun yang berjiwa petualang dan tak ingin disebut”Kuper(kurang Pergaulan).”



Dikejar – kejar tentara tidak pernah ada dalam rencana Dahlan muda. Awalnya,Dahlan ke Samarinda menuntut ilmu. Sayang,teori tak sejalan dengan kenyataan , Dosen-dosen yang otoriter dan kondisi politik yang memanas,membuat perkuliahan tidak lancar.Belum lagi kerinduannya yang besar terhadap kampung halaman dan orang-orang terkasih yang selalu menyesakkan dada,membuat hidup di rantau terasa semakin berat. Dahlan pun memutuskan berhenti kuliah .dia memilih aktif dalam kegiatan kemahasiswaan yang kemudian menyeretnya pada peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari –Malari. 

Tugu Nasional menjadi saksi keberanian dan kepedulian Dahlan serta rekan-rekannya terhadap negeri yang kacau-balau kala itu. Dianggap memberontak,mereka pun menjadi buronan pemerintah.Tak di sangka,dalam pelariannya,takdir  mempertemukan dahlan dengan dua cinta baru dalam hidupnya: Perempuan dari Loa  Kulu dan Surat kabar.


Dapatkan seluruh buku ini di Gramedia Bangka dan Gramedia Se-Sumatera lainnya :)


No comments:

Post a Comment